INFO TERKINI

Waspadai potensi hujan sedang hingga lebat di wilayah Lombok Tengah, Lombok Utara, Lombok Timur, Sumbawa Bagian Tengah, Bima dan Dompu pada Siang hingga Malam hari, serta waspadai kenaikan tinggi gelombang yang mencapai ≥ 2.0 m di Selat Lombok , Selat Alas, dan Perairan Selatan NTB.

Selasa, 06 Maret 2018

PRESS RELEASE BENCANA BANJIR DOMPU







Update Data banjir dompu.
tanggal 6 maret 2017 Pukul 19;00:

1. fakta - fakta :
a. Pada hari senin tanggal 05 Maret 2018 pukul 16.45 wita telah terjadi banjir di Wilayah Kec. Dompu dan Kec. Woja akibat ketinggian air banjir mampu melewati tanggul sungai yang ada dipesisir bantaran sungai Rabalaju dan menggenangi rumah masyarakat dan fasilitas umum.
b. banjir terjadi di sebabkan oleh besarnya curah hujan di bagian utara wilayah Kec. Dompu dan  sekitarnya mulai pukul 14.40 wita hingga pukul 16.20 wita.
c.   pukul 16.45 wita air banjir mulai masuk ke permukiman dengan melewati tanggul bantaran sungai rabalaju.
d.   pukul 16.50 wita warga yang tinggal didekat bantaran sungai rabalaju kaget dengan masuknya air banjir dan warga langsung melakukan evakuasi barang rumah tangga yang bisa diselamatkan.
e.   pukul 17.00 wita anggota BPBD Kab. Dompu, Anggota Kodim 1614/Dompu, Polres Dompu, Subden III Den A Brimob Dompu, Sat Pol PP Dompu serta pemerintah terkait bersama warga melakukan evakuasi barang-barang rumah tangga warga.
f.   Fasilitas umum yang tergenang adalah lokasi RSU bagian utara UGD dan sal belakang RSU, SMP yayasan sakinah desa Wawonduru, SD Impres Soriwono kelurahan potu. Kerusakan yang di timbulkan adalah jebolnya tanggul sungai laju di lingkungan soriwono kelurahan potu.
f.   adapun Wilayah yang terendam banjir sbb  :
1). kec. Dompu  :
a. dusun Kareke, Desa Karake.
b. lingk. Parapimpi, Kel. Potu.
c. lingk. Magenda, Kel. Potu.
d. lingk. Potu, Kel. Potu.
e. lingk. Sori Wono, Kel. Potu.
e. lingk. Kampo Rato, Kel. Karijawa.
f. lingk. Karijawa selatan, Kel. Karijawa.
g. kelurahan kandai satu
h.Kel.Bada 

2). kec. Woja  :
a. lingk. Dore Kel. Simpasai.
b. lingk. Kandai Dua Timur, Kel. Kandai Dua.
c. lingk. Kandai Dua Barat, kel.  Kandai Dua.
d. dusun Ratobaka, Ds. wawonduru.
e. dusun Wawonduru, Ds.wawonduru.

3). diperkirakan jumlah rumah yang digenangi air banjir :
1. desa Kareke diperkirakan 50 rumah.
2. kel. Potu 500 rumah.
3. kel. Karijawa diperkirakan 20 rumah.
4. kel. simpasai diperkirakan 150 rumah.
5. kel. Kandai Dua diperkirakan 300 rumah.
6. desa Wawonduru diperkirakan 380 rumah.
7. kel. Kandai satu diperkirakan 18 rumah
8.Kel.Bada 84 Rumah

4).  Kerugian material untuk kel. Potu dari Keterangan Lurah potu Drs. Firmansyah yakni lebih kurang Rp. 600 Juta dan kerugian material di Wilayah yang lainnya belum dapat diperkirakan karena semua rumah warga digenang air dan untuk korban jiwa Nihil.

5). pukul 19.18 wita wita banjir sudah sudah mulai surut khusus di kecamatan Dompu dan pukul 21.05 wita banjir surut di kecamatan woja

6). Upaya yang dilakukan :
1.   Mulai dari tanggal 5 Maret 2018 kemarin saat kejadian, BPBD Kabupaten berkoordinasi dengan BPBD Provinsi NTB tentang langkah langkah yang di upayakan.
2.  Pukul 18.25 wita dilaksanakan rapat koordinasi Pimpinan SKPD (eselon 2 - eselon 3) di rumah dinas Sekda Kabupaten Dompu untuk memobilisasi bantuan tanggap darurat yang menghasilkan kesepakatan :
          -  Upaya evakuasi orang/barang harus tetap di upayakan
-  Upaya distribusi nasi bungkus, air minum dan makanan siap saji lain yang di perintahkan kepada
   setiap SKPD untuk segera dilaksanakan serta mobilisasi himbauan untuk masyarakat lain yang
   memiliki kemampuan (wilayah tidak terkena banjir) untuk membantu . Upaya ini sudah  
  dilaksanakan tadi malam baik secara  perseorangan maupun lembaga.
          -  Pengadaan dapur umum mulai tadi malam
          - Di instruksikan kepada SKPD Dinas kesehatan untuk segera membuka pos kesehatan dan
            pengobatan.
          - Di instruksikan kepada seluruh ASN SKPD, besok hari selasa tanggal 6 maret untuk semua turun ke
            lapangan membantu masyarakat
 3.   BPBD kabupaten Bima (Kabupaten tetangga) dengan personil 20 orang serta 1 unit mobil tangki 1
       unit mobil damkar dan mobil rescue tiba di dompu jam 19.30 wita untuk membantu.
 4.  Tanggal 6 maret 2017 hari ini, dilaksanakan pembersihan lumpur dan penyedotan air tergenang di 
       rumah rumah warga, dengan peralatan pompa, mobil tangki, mobil damkar, water canon polres
       dompu dan giat masih berlangsung sampai saat ini.
 5.   Jumlah bantuan logistik serta makanan siap saji terdistribusi lancar, baik dari dapur umum Dinas Sosial kab. Dompu, PKK/GOW,  logistik dari BPBD Prov, bantuan dari Pemda Bima (BPBD Bima), Kota Bima (BPBD Kota Bima) dan organisasi kemasyarakatan lain baik secara lembaga maupun secara perseorangan.
      Jumlah bantuan yang terdata dan di salurkan sampai dengan saat ini adalah :
no
Jenis barang
volume
Sumber bantuan
Kondisi barang saat ini
1.
Peralatan dapur
25 paket
BPBD Prov
di posko BPBD Dompu
2.
Kids ware
25 paket
BPBD Prov
di posko BPBD Dompu
3.
Tenda gulung
15 Lbr
BPBD Prov
di posko BPBD Dompu
4.
Paket kesehatan keluarga
20 paket
BPBD Prov
di posko BPBD Dompu
5.
Family Kit
25 pkt
BPBD Prov
di posko BPBD Dompu
6.
Perlengkapan makan
30 pkt
BPBD Prov
di posko BPBD Dompu
7
Paket rekresional
30 pkt
BPBD Prov
di posko BPBD Dompu
8
Perlengkapan sekolah
100 pkt
BPBD Prov
di posko BPBD Dompu
9
Mie instan
150 dus
BPBD Prov
di posko BPBD Dompu
10
Air mineral/ gelas
150 dus
BPBD Prov
di posko BPBD Dompu
11
selimut
100 lbr
BPBD Prov
di posko BPBD Dompu
12
Mie instan
200 dus
GOW kota bima
di posko BPBD Dompu
13
Air mineral/gelas
100 dus
GOW kota bima
di posko BPBD Dompu
14
Nasi bungkus
1000 bks
GOW kota bima
terdistribusi
15
Air mineral/gelas
15 dus
Wanita islam
di posko BPBD Dompu
16
Mie instan
6 dus
Wanita islam
di posko BPBD Dompu
17
Minuman Teh rio
3 dus
Wanita islam
di posko BPBD Dompu
18
sarung
1 dus
Wanita islam
di posko BPBD Dompu
19
Mie instan
10 dus
PWKI
di posko BPBD Dompu
20
telur
6 krat
PWKI
di posko BPBD Dompu
21
Air mineral/gelas
445 dus
BPBD Kota Bima
terdistribusi
22
Mie instan
145 dus
BPBD Kota Bima
terdistribusi
23
Nasi Bungkus
1350 bks
BPBD Kota Bima
terdistribusi
24
Pakaian layak pakai
4 krung
BPBD Kota Bima
terdistribusi

 5.  Memonitor dampak dan langkah penanganan bencana banjir serta mengikuti setiap perkembangan inventarisasi dampak kerusakan dan kerugian.

Demikian laporan sementara ini disampaikan sesuai dengan kondisi terkini.


Komando Tanggap Darurat
Kabupaten Dompu

TTD

H. Agus Bukhari SH, MSi








Jumat, 02 Februari 2018

TERKAIT PENANGGULANGAN RESIKO BENCANA, BNPB PUSAT TINJAU DOMPU

DOMPUKAB.GO.ID – Dalam menanggulangi resiko bencana seperti banjir. Team Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pusat mekakukan monev di Kabupaten Dompu, Kamis (01/01/2018).
Team tersebut terdiri dari Dr. Fuadi Darwis, Mph.MARS, Bambang Munajdat, Rahmawati Husain, Phd, Heddy Agus Pritasa, SE, Dr. Ir. Didik Eko Budi Santoso dan Liris Mardiyanti.
Kedatangan Tim disambut Bupati Dompu diwakili Assisten Administrasi Umum Setda Dompu dan di dampingi kepala BPKAD, Kepala BPBD dan anggota Komisi III DRPD Dompu.
Melalui arahannya, Muhammad Amin, S.Sos Assisten Administrasi Umum berharap, BNPB dapat membantu pemerintah daerah dalam mengurangi resiko bencana, terutama banjir di beberapa Daerah Air dan Sungai (DAS) seperti di Sungai Laju, Sungai Silo, Sungai Soa, dan Sungai Rababaka.
Sementara itu, Ihwayuddin AK anggota Komisi III DRPD Dompu mengapresiasi komitment Tim Monev BNPB untuk membantu pemda dalam mengurangi resiko bencana. “Kami harapa kegiatan ini sebagai dasar dalam perumusan kebijakan ke depan,” ujarnya.
Ada pun titik yang direncanakan untuk ditinjau seperti sepanjang DAS di Lingkungan Kota Baru, Kampung Samporo, Magenda Potu, Kampung Sigi, Simpasai, Kandaidua, Wawonduru dan Montabaru.
Pada pertemuan tersebut juga disampaikan beberapa proposal untuk program penanggulangan resiko banjir ke depannya. HUMAS

Sabtu, 23 September 2017

Pengamatan Visual Gunung Agung

Gambar
1. Pengamatan Visual
  1. Pengamatan visual Gunungapi Agung dari periode Sabtu, 1 Juli 2017 hingga Senin, 31 Juli 2017 (31 hari) pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, dengan curah hujan maksimal 67.9 mm, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 19 - 31°C. Kelembaban 64 - 89%. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap nihil.Pengamatan visual Gunungapi Agung dari periode Selasa, 1 Agustus 2017 hingga Kamis, 31 Agustus 2017 (31 hari) pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, dengan curah hujan maksimal 22.6 mm, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 19 - 31°C. Kelembaban 64 - 88%. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap nihil.
  2. Pengamatan visual Gunungapi Agung dari periode Jumat, 1 September 2017 hingga Kamis, 14 September 2017 (14 hari) pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, dengan curah hujan maksimal 14.4 mm, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan utara. Suhu udara sekitar 20 - 31°C. Kelembaban 88%. Tekanan udara 84 mmHg. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Asap nihil.
  3. Pengamatan visual Gunungapi Agung selama status Level II (Waspada) dari periode Kamis, 14 September 2017 hingga Selasa, 18 September 2017 (5 hari) pasca kenaikan status dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga) pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, dengan curah hujan maksimal 16.6 mm, angin lemah hingga sedang ke arah barat dan utara. Suhu udara sekitar 18 - 31°C. Kelembaban 56 - 89%. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 50 meter dari atas puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis.
  4. Pengamatan visual Gunungapi Agung selama status Level III (Siaga) dari periode Senin, 18 September 2017 hingga Jumat, 22 September 2017 (5 hari) pada umumnya cuaca cerah hingga hujan, dengan curah hujan maksimal 0.4 mm, angin lemah hingga sedang ke arah timur dan barat. Suhu udara sekitar 18 - 31°C. Kelembaban 56 - 88%. Gunungapi terlihat jelas hingga tertutup Kabut 0-III. Teramati asap kawah utama dengan ketinggian maksimum 200 meter dari atas puncak,
  5. bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas sedang.
2. Instrumental
  1. Pengamatan instrumental Gunungapi Agung dari periode 1 Juli 2017 hingga 31 Juli 2017, terekam 6 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 2 - 19 mm, S-P 1 - 3 detik dan lama gempa 22 - 47 detik. 4 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 3 - 9 mm, S-P 5 - 7 detik dan lama gempa 23 - 85 detik. 46 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 2 - 23 mm, S-P 13 - 85 detik dan lama gempa 40 - 235 detik.
  2. Pengamatan instrumental Gunungapi Agung dari periode 1 Agustus 2017 hingga 30 Agustus 2017, terekam 5 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 2 - 7 mm dan lama gempa 8 - 22 detik. 43 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 2 - 10 mm, S-P 1 - 4 detik dan lama gempa 14 - 38 detik. 15 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 3 - 22 mm, S-P 4.5 - 8 detik dan lama gempa 27 - 55 detik. 38 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 2 - 25 mm, S-P 15 - 151 detik dan lama gempa 14 - 260 detik.
  3. Pengamatan instrumental Gunungapi Agung dari periode 1 September 2017 hingga 13 September 2017, terekam 19 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 2 - 7 mm dan lama gempa 4 - 30 detik. 54 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 2 - 10 mm, S-P 0.9 - 4 detik dan lama gempa 7 - 48 detik. 11 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 5 - 10 mm, S-P 4.5 - 9 detik dan lama gempa 24 - 60 detik. 13 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 2 - 24 mm, S-P 11 - 46 detik dan lama gempa 21 - 166 detik.
  4. Pasca kenaikan status ke Level II (Waspada) pada 14 September 2017 pukul 14.00 WITA, hingga 18 September 2017, terekam 1 kali gempa Tremor NonHarmonik dengan amplitudo 6 mm dan lama gempa 480 detik. 21 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 2 - 10 mm dan lama gempa 6 - 40 detik. 602 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 2 - 10 mm, S-P 0.9 - 3.5 detik dan lama gempa 5 - 38 detik. 12 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 5 - 8 mm, S-P 4.5 - 8.5 detik dan lama gempa 29 - 47 detik. 1 kali gempa Terasa dengan amplitudo 8 mm dan lama gempa 66 detik. 3 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 7 - 8 mm, S-P 12 - 16 detik dan lama gempa 47 - 71 detik.
  5. Pasca kenaikan status ke Level III (Siaga) pada 18 September 2017 pukul 21.00 WITA, hingga 21 September 2017 pukul 06.00 WITA, terekam 113 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 2 - 6 mm dan lama gempa 5 - 14 detik. 1947 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 2 - 9 mm, S-P 1 - 3.5 detik dan lama gempa 7 - 36 detik. 85 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 5 - 8 mm, S-P 4.5 - detik dan lama gempa 29 - 78 detik. 1 kali gempa Terasa dengan amplitudo 8 mm dan lama gempa 66 detik. 2 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 2 - 9 mm, S-P tidak terbaca dan lama gempa 62 - 147 detik. Gempa-gempa terasa semakin sering dirasakan oleh penduduk maupun di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa tekanan akibat pergerakan magma yang terakumulasi di bawah permukaan menjadi semakin besar.
3. Evaluasi
  1. Pasca kenaikan status ke Level III (Siaga), pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan adanya asap solfatara di kawah G. Agung setinggi 200 meter dari bibir kawah dengan intensitas putih tipis sampai sedang dengan tekanan lemah.
  2. Pasca kenaikan status ke Level III (Siaga) pada 18 September 2017 pukul 21.00 WITA, tingkat kegempaan G. Agung terus menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perekaman data seismik di Gunung Agung. Gempa Vulkanik Dalam (VA) yang mengindikasikan proses peretakan batuan di dalam tubuh gunungapi yang diakibatkan oleh tekanan magma dari kedalaman menuju ke permukaan mulai terekam meningkat jumlahnya secara konsisten sejak 10 Agustus 2017 dan terus meningkat jumlahnya pasca kenaikan status ke Level III (Siaga) dengan amplituda berkisar 4-10 mm. Gempa Vulkanik Dangkal (VB) juga mulai terekam meningkat jumlahnya secara konsisten sejak 24 Agustus 2017 dengan amplituda kegempaan vulkanik berkisar antara 3-10mm.
  3. Analisis pola perubahan energi seismik untuk periode krisis Gunung Agung kali ini mengindikasikan bahwa peningkatan amplitudo seismik yang terjadi terus mengalami percepatan yang semakin tinggi dan cenderung mengarah ke satu garis asymptote (erupsi/letusan).
  4. Analisis cross-correlation pada ambient-seismic-noise mengindikasikan adanya penurunan struktur kecepatan batuan di dalam tubuh Gunung Agung. Hal ini mengindikasikan zona hancuran di tubuh Gunungapi Agung semakin banyak akibat migrasi magma ke permukaan. Jika zona hancuran ini semakin banyak dan terus mendekat ke permukaan maka bukan tidak mungkin erupsi/letusan dapat segera terjadi.
  5. Aktivitas Gempa Tektonik Lokal yang mengindikasikan perubahan stress batuan di sekitar G. Agung juga terekam dan mulai meningkat secara konsisten sejak 26 Agustus 2017 dengan amplituda berkisar 6 mm sampai 22 mm. Gempa Terasa frekuensinya semakin tinggi dan semakin dirasakan oleh masyarakat di sekitar G. Agung maupun di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Rendang, Karangasem, Provinsi Bali. Dari tanggal 14 September hingga 18 September 2017 pukul 20:00 WITA, telah terjadi 3 kali Gempa Terasa yang berpusat di sekitar G. Agung. Terakhir, Gempa Terasa di sekitar G. Agung pada tanggal 22 September 2017 pukul 11:37:08 WITA dengan magnitudo Md 3.0 dan terasa dengan skala MMI III di Pos PGA Agung di Rendang (13 km di sebelah Selatan-Baratdaya dari puncak G. Agung).
  6. Citra termal yang terekam oleh sensor MODIS di satelit Terra dan Aqua (NASA) pada periode 1 Januari - 22 September 2017  menunjukkan adanya titik api di G. Agung, tetapi anomali panas itu bukan merupakan aktivitas vulkanik G. Agung, melainkan kebakaran lahan pada tanggal 19 September 2017.
  7. Citra satelit ASTER TIR menunjukkan anomali panas di daerah kawah G. Agung sejak Juli 2017 dan mulai teramati semakin meluas pada pertengahan Agustus 2017 hingga saat ini. Intensitas titik panas di citra satelit teramati lebih terang pada pertengahan Agustus 2017 hingga saat ini yang mengindikasikan bahwa transfer energi melalui fluida magmatik ke permukaan intensitasnya semakin tinggi dan pada batas tertentu dapat melemahkan lapisan penutup sisa letusan 1963 di dekat permukaan kawah (lava plug 1963) dan kemudian dapat diikuti oleh letusan.
  8. Citra anomali konsentrasi SO2 di udara di sekitar G. Agung belum memperlihatkan anomali akibat aktivitas G. Agung.
  9. Data deformasi yang diperoleh melalui analisis data satelit dalam periode Agustus hingga September 2017 menunjukkan adanya indikasi inflasi (penggembungan) pada tubuh Gunung Agung.
  10. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental aktivitas G. Agung, dapat disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik G. Agung saat ini berada pada tingkatan yang sangat tinggi sehingga probabilitas untuk terjadi letusan menjadi semakin meningkat. Perlu dipahami bahwa kejadian letusan tidak dapat dipastikan tepat kapan waktunya dan seberapa besar intensitasnya. Mengestimasi karakter letusan G. Agung ke depan cenderung lebih sulit dari gunungapi lainnya karena tidak adanya data instrumental sebagai pembanding dengan letusan sebelumnya. Satu-satunya data yang dapat dijadikan pedoman adalah fenomena rentetan Gempa Terasa yang dirasakan oleh masyarakat di sekeliling G. Agung pada tahun 1963 juga dirasakan pada tahun ini. Namun demikian, upaya mitigasi bencana letusan perlu dilakukan. Hingga saat ini kecenderungan bahwa aktivitas vulkanik G. Agung akan menurun belum teramati. Sebaliknya, saat ini aktivitas vulkanik G. Agung menunjukkan kecenderungan terus meningkat. Oleh karena itu, meskipun semua elemen berharap letusan tidak terjadi, namun semua elemen harus bersiap dengan kemungkinan terburuk.
4. Potensi Bencana
  1. Sejarah aktivitas erupsi G. Agung dicirikan oleh erupsi-erupsi yang bersifat eksplosif dan efusif dengan pusat kegiatan di G. Agung yang terletak di dalam Kawah G. Agung.
  2. Berdasarkan sejarahnya, jika terjadi letusan G. Agung seperti pada tahun 1963 maka potensi bahaya yang mungkin terjadi dapat berupa lontaran piroklastik (bom vulkanik/batu panas), hujan abu, aliran piroklastika, aliran lava, hingga banjir lahar. Jika terjadi letusan, potensi bahaya primer yang dapat terjadi di dalam radius 9 km berupa jatuhan piroklastik dengan ukuran sama atau lebih besar dari 6 cm.
  3. Hasil pemodelan potensi sebaran hujan abu menunjukkan bahwa jika terjadi letusan saat ini dengan asumsi indeks eksplosivitas letusan VEI III maka sektor Barat, Baratlaut dan Utara dari G. Agung adalah sektor yg paling terancam. Sektor tersebut berpotensi terlanda hujan abu lebat dengan ketebalan maximum mencapai 1.6 meter (hingga jarak 15 km dari Puncak Gunung Agung) dan ketebalan maximum 0.4 meter (hingga jarak 30 km dari Puncak Gunung Agung).
  4. Hasil pemodelan potensi sebaran abu vulkanik di udara mengindikasikan jika erupsi terjadi dalam waktu dekat maka abu vulkanik dapat tersebar jauh utamanya ke arah Baratlaut dari Puncak G. Agung dan diperkirakan dapat mengganggu operasional penerbangan dari dan ke: Bali, Surabaya, dan Banyuwangi. Namun mengenai potensi gangguan abu vulkanik di udara sangat mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga pihak-pihak yang terkait keselamatan penerbangan diharapkan untuk adaptif sesuai dengan kondisi aktual.
  5. Hasil pemodelan potensi aliran piroklastik (Awan Panas) dengan asumsi bahwa letusan pembuka memiliki volume letusan 10 juta m3, maka aliran piroklastika dapat berpotensi meluncur ke sektor Utara-Timurlaut, Tenggara, dan Selatan-Baratdaya dengan jangkauan sekitar 10 km dalam waktu kurang dari 3 menit. Namun jika volume letusan melebihi 10 juta m3, maka aliran piroklastika dapat berpotensi meluncur ke sektor Utara-Timurlaut, Tenggara, dan Selatan-Baratdaya dengan jangkauan melebihi 10 km. Oleh karena itu, ke depan PVMBG dapat mengubah rekomendasi gunungapi sesuai dengan perkembangan data pemantauan terbaru.
  6. Ancaman bahaya aliran piroklastik (Awan Panas) tersebut di atas maupun aliran lava utamanya berada pada sektor utara lereng G. Agung terutama di daerah aliran sungai Tukad Tulamben, Tukad Daya, Tukad Celagi yang berhulu di area bukaan kawah, pada sektor Tenggara terutama di daerah aliran Sungai Tukad Bumbung, dan pada sektor Selatan-Baratdaya terutama di daerah Pati, Tukad Panglan, dan Tukad Jabah.
5. Kesimpulan
  1. Hingga saat ini berdasarkan data yang diamati dan dianalisis secara komprehensif oleh PVMBG, aktivitas G. Agung disimpulkan sangat tinggi dan belum ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa tingkat aktivitasnya akan menurun.
  2. Jika letusan terjadi, terdapat potensi bencana yang cukup besar. Hal ini dapat terjadi karena saat ini banyak masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana. Selain itu, masyarakat di sekeliling Gunung Agung juga belum memiliki pengalaman yang cukup banyak untuk menghadapi letusan Gunung Agung karena gunungapi ini terakhir meletus pada tahun 1963 (54 tahun yang lalu).
  3. Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka terhitung mulai tanggal 22 September 2017 pukul 20.30 WITA status aktivitas Gunungapi Agung dinaikkan dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas).
6. Rekomendasi
  1. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah G. Agung dan di seluruh area di dalam radius 9 km dari Kawah Puncak G. Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 12 km. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru.
  2. Jika erupsi terjadi maka potensi bahaya lain yang dapat terjadi adalah terjadinya hujan abu lebat yang melanda seluruh Zona Perkiraan Bahaya. Hujan abu lebat juga dapat meluas dampaknya ke luar Zona Perkiraan Bahaya bergantung pada arah dan kecepatan angin. Pada saat rekomendasi ini diturunkan, angin bertiup dominan ke arah Barat-Baratlaut. Oleh karena itu, diharapkan agar hal ini dapat diantisipasi sejak dini terutama dalam menentukan lokasi pengungsian.
  3. Mengingat adanya potensi bahaya abu vulkanik yang dapat mengakibatkan gangguan pernapasan akut (ISPA) pada manusia maka diharapkan seluruh masyarakat, utamanya yang bermukim di sekitar G. Agung maupun di Pulau Bali, segera menyiapkan masker penutup hidung dan mulut maupun pelindung mata sebagai upaya antisipasi potensi bahaya abu vulkanik.
  4. Pemerintah Daerah beserta jajarannya maupun BNPB agar segera membantu dalam membangun jaringan komunikasi melalui telepon seluler (Grup WhatsApp) maupun komunikasi melalui radio terintegrasi untuk mengatasi keterbatasan sinyal telepon seluler di antara pihak-pihak terkait mitigasi bencana letusan G. Agung. Diharapkan agar proses diseminasi informasi yang rutin dan cepat dapat terselenggara dengan baik.
  5. Seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan agar terus mengikuti perkembangan aktivitas G. Agung secara rutin karena data pengamatan dapat secara cepat berubah sehingga upaya-upaya preventif untuk menjamin keselamatan udara dapat dilakukan.
  6. Seluruh pihak agar menjaga kondusivitas suasana di Pulau Bali, tidak menyebarkan berita bohong (hoax) dan tidak terpancing isu-isu tentang erupsi G. Agung yang tidak jelas sumbernya.
  7. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali dan BPBD Kabupaten Karangasem dalam memberikan informasi tentang aktivitas G. Agung.
  8. Masyarakat di sekitar G. Agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan diharap untuk tetap tenang namun tetap menjaga kewaspadaan dan mengikuti himbauan Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, BPBD Provinsi/Kabupaten/Kota beserta aparatur terkait lainnya sesuai dengan rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi sehingga jika diperlukan upaya-upaya mitigasi strategis yang cepat, dapat dilakukan dengan segera dan tanpa menunggu waktu yang lama.
  9. Seluruh masyarakat maupun Pemerintah Daerah, BNPB, BPBD Provinsi Bali, BPBD Kabupaten Karangasem, dan instansi terkait lainnya dapat memantau perkembangan tingkat aktivitas maupun rekomendasi G. Agung setiap saat melalui aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diakses melalui website https://magma.vsi.esdm.go.id atau melalui aplikasi Android MAGMA Indonesia yang dapat diunduh di Google Play. Partisipasi masyarakat juga sangat diharapkan dengan melaporkan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan aktivitas G. Agung melalui fitur Lapor Bencana. Para pemangku kepentingan di sektor penerbangan dapat mengakses fitur VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation).

Gunung Agung- Berubah Menjadi Status Awas

BALI - Sejak ditetapkannya status Awas (Levwl 4) Gunung Agung pada 22/9/2017 pukul 20.30 Wita, ribuan masyarakat melakukam evakuasi dan petugas juga mengangkut pengungsi ke luar dari daerah berbahaya. Data sementara yang dihimpun Pusdalops BPBD Bali hingga siang ini tercatat 15.142 jiwa pengungsi yang tersebar di 125 titik pengungsian.
Pengungsi tersebar di 7 kabupaten di sekitar Gunung Agung yaitu di Kabupaten Badung 5 titik (35 jiwa), Kabupaten Bangli 17 titik (465 jiwa), Kabupaten Buleleng 10 titik (2.423 jiwa), Kabupaten Denpasar 6 titik (343 jiwa), Kabupaten Giayar 9 titik (182 jiwa), Kabupaten Karangasem 54 titik (7.852 jiwa), Kabupaten Klungkung 21 titik (3.590 jiwa) dan Kabupaten Tabanan 3 titik (252 jiwa). Pendataan masih dilakukan oleh BPBD. Diperkirakan jumlah pengungsi masih bertambah.
Pengungsi berada di GOR, balai desa  banjar, rumah penduduk dan kerabatnya. Banyak titik pengungsian menyebabkan distribusi logistik dan bantuan terkendala karena petugas harus menyalurkan ke lokasi pengungsian yang terpencar. 
Rasa solidaritas yang tinggi sesama masyarakat, banyak yang menawarkan rumah dan bangunannya untuk digunakan sebagai tempat pengungsian seperti yang dilakukan oleh warga yang bisa menampung 50 orang beserta fasilitas air bersih, tempat tidur dan makanan sehari-hari di Pejeng Kangin Tampak Siring.
Begitu juga warga bernama Nyoman Suardika yang menyediakan tempat penampungan ternak di wilayah Besang Kawan Klungkung secara gratis. Bahkan juga menyediakan tempat pengungsian di dekatnya untuk kapasitas 30 orang sehingga bisa mencari pakan ternaknya. Bantuan masyarakat secara swadaya juga banyak dilakukan. Ini adalah modal sosial yang luar biasa. Masyarakat secara mandiri dan spontan saling membantu anggota masyarakat yang mengungsi. Upaya masyarakat ini layak diapresiasi dan didorong agar tidak bergantung pada bantuan pemerintah. Pemerintah pasti akan memberikan bantuan kepada para pengungsi namun ada beberapa kendala di lapangan yang sangat dinamis.
BPBD telah membangun Posko Tanggap Darurat. Untuk para pengungsi untuk data dan bantuan bisa menghubungi call center Pusdalops Denpasar 0361 223333 dan emergency call Denpasar 112. 
Informasi dan dihimbau kepada masyarakat yang mau mengumpulkan donasi, baik berupa barang maupun uang, agar disetor melalui satu pintu yaitu Posko Utama Satgas Siaga Darurat, Alamat Dermaga Cruise Tanah Ampo, Manggis Kabupaten Karangasem. Dengan kordinator Bapak Subadi, atau sumbangan minimal dicatat jumlah dan bentuk sumbangan serta akan disalurkan kemana. Call center Posko Darurat Gunung Agung Kabupaten Karangasem 081353965324.
Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB

Senin, 11 September 2017

Lebih dari 2.726 Desa Kekeringan, Jutaan Masyarakat Terdampak di Jawa dan Nusa Tenggara


JAKARTA-Meskipun musim kemarau normal pada periode 2017 ini, namun telah memberikan menyebabkan kekeringan dan krisis air di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Berdasarkan data sementara yang dihimpun Pusat Pengendali Operasi (pusdalops) BNPB terdapat sekitar105 kabupaten/kota, 715 kecamatan, dan 2.726 kelurahan/desa yang mengalami kekeringan saat ini di Jawad an Nusa Tenggara. Sekitar 3,9 juta jiwa masyarakat terdampak kekeringan sehinga memerlukan bantuan air bersih. Kekeringan juga menyebabkan 56.334 hektar lahan pertanian mengalami sehingga 18.516 hektar lahan pertanian gagal panen.

Berdasarkan sebaran wilayahnya, kekeringan di Jawa Tengah melanda 1.254 desa yang tersebar di 275 kecamatan dan 30 kabupaten/kota sehingga memberikan dampak kekeringan  terdapat 1,41 juta jiwa atau 404.212 KK. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengeluarkan status siaga darurat kekeringan hingga Oktober 2017.Di Jawa Barat kekeringan melanda 496 desa di 176 kecamatan dan 27 kabupaten/kota sehingga berdampak kepada 936.328 jiwa penduduk. Delapan kepala daerah kabupaten/kota telah mengeluarkan status siaga darurat kekeringan yaitu Kabupaten Ciamis, Cianjur, Indramayu, Karawang, Kuningan, Sukabumi, Kota Banjar, dan Kota Tasikmalaya.Begitu pula halnya dengan di Jawa Timur, kekeringan melanda 588 desa di 171 kecamatan dan 23 kabupaten/kota.

Di Nusa Tenggara Barat kekeringan melanda 318 desa di 71 kecamatan yang tersebar di 9 kabupaten meliputi Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Dompu, Bima dan Kota Bima. Sebanyak 640.048 jiwa atau 127.940 KK masyarakat terdampak kekeringan. Sedangkan di sembilan kabupaten di Provinsi Kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan mengalami darurat kekeringan. Hal itu menyusul sumber-sumber mata air mulai mengering. Sembilan kabupaten yang melaporkan darurat kekeringan itu adalah Flores Timur, Rote Ndao, Timor Tengah Utara (TTU), Belu, Malaka, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya dan Sabu Raijua.

Di Provinsi DI Yogyakarta, kekeringan melanda di 10 kecamatan di Kabupaten Kulon Progo. Di 10 kecamatan tersebut ada 32 desa yang terdampak kekeringan , ada 12.721 Jiwa di dalam 7.621 KK yang terdampak kekeringan di musim kemarau ini. Penyaluran air bersih terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Sedangkan kekeringan dan dampaknya di Provinsi Banten, dan Bali masih dilakukan pendataan. Sebagian besar daera-daerah yang terlanda kekeringan adalah daerah-daerah yang pada tahun-tahun sebelumnya juga mengalami kekeringan. Masih tingginya kerusakan lingkungan dan daerah aliran sungai menyebabkan sumber air mengering. Pasokan air di sungai menyusut drastis selama musim kemarau. Di satu sisi kebutuhan air masih meningkat sehingga kekeringan menahun masih terjadi di wilayah tersebut.

Upaya yang dilakukan untuk jangka pendek adalah bantuan dropping air bersih melalui tangki air. BPBD Bersama SKPD, relawan dan dunia usaha telah menyalurkan jutaan liter air bersih kepada masyarakat. Beberapa daerah dijadual untuk pengiriman bantuan air bersih karena keterbatasan mobil tangki air. Air bersih ini untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak. Sedangkan untuk mandi dan cuci warga harus memanfaatkan sumber-sumber mata air dari sungai atau embung-embung. BNPB memberikan bantuan dana siap pakai kepada BPBD yang telah menetapkan status darurat untuk menangani kekeringan.

Upaya mengatasi kekeringan sudah dilakukan setiap tahun, namun upaya ini belum dapat menuntaskan semuanya. Pembangunan sumur bor, pembangunan perpipaan, pemanenan hujan, pembangunan embung, bendung dan waduk telah dapat mengurangi dampak kekeringan. Upaya ini masih terus dilakukan ke depan.

Diperkirakan kekeringan masih akan berlangsung hingga akhir Oktober 2017 mendatang. BMKG telah merilis bahwa sebagian besar pulau Jawa saat ini sedang mengalami puncak musim kemarau, dan akan masuk awal musim hujan pada Oktober-November 2017. Awal Musim Hujan 2017/2018 di sebagian besar daerah diprakirakan mulai akhir Oktober - November 2017 sebanyak 260 zona musim (76%) dan mengalami puncak musim hujan pada Desember 2017-Februari 2018.

Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat data Informasi dan Humas BNPB

Selasa, 29 Agustus 2017

Kapasitas dan Kesiapsiagaan Nasional Kunci Menuju Pembangunan Aman Bencana

JAKARTA - Lebih 148,4 juta jiwa penduduk Indonesia atau 62,4% dari total penduduk Indonesia terpapar bahaya gempa bumi dan tsunami. Pengurangan risiko bencana
(PRB) gempa bumi dan tsunami mutlak dilakukan demi melindungi masyarakat Indonesia. Dalam konteks PRB dan potensi kerugian ekonomi akibat bencana gempa bumi dan tsunami, Indonesia perlu aktif dalam menyebarluaskan perkembangan penanggulangan bencana ini kepada masyarakat dan pemangku kebijakan, seperti pemahaman ancaman dan tata kelola risiko bencana.
Latar belakang di atas mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menyelenggarakan seminar nasional dengan tema “Membangun Kapasitas dan Kesiapsiagaan Nasional dalam menghadapi ancaman Gempa bumi dan Tsunami, Menuju Pembangunan yang lebih Aman Bencana.” Seminar yang dibuka Kepala BNPB Willem Rampangilei membahas mengenai pentingnya kerja bersama antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam meningkatkan pemahaman terhadap risiko bencana, kewaspadaan, kesiapsiagaan dan untuk peningkatan kesejahteraan bangsa.
Dalam sambutan pembuka, Willem menyampaikan pemahaman terhadap risiko bencana, kewaspadaan, kesiapsiagaan dan perubahan cara pandang dan perilaku secara nasional dalam menghadapi risiko bencana gempa bumi dan tsunami dari “ancaman” menjadi “peluang” untuk kesejahteraan bangsa perlu ditingkatkan.
“Masukan berupa pemikiran kritis dan diskusi bersama diharapkan dapat menyempurnakan masterplan tsunami sebagai bentuk kristalisasi sinergitas pembangunan nasional dan pengelolaan risiko bencana,” kata Willem pada pembukaan seminar yang berlangsung pada Senin (28/8) di Graha BNPB, Jakarta Timur.
Sementara itu, Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB B. Wisnu Widjaja mengatakan bahwa bencana kapasitas dan kesiapsiagaan nasional dapat terwujud dengan pelibatan berbagai pihak dalam bersinergi untuk pengelolaan risiko bencana. 
“Oleh karena itu, peran lembaga usaha, peran akademisi, peran media diperlukan untuk dapat memberikan solusi-solusi konkret untuk mewujudkan masyarakat yang tangguh terhadap ancaman bencana, khususnya ancaman bencana gempabumi dan tsunami.”
Wisnu menambahkan bahwa kita bersama perlu memiliki paradigma bahwa bencana tidak perlu diratapi, serta mindset positif terhadap fenoma alam yang berakhir dengan dampak korban maupun kerusakan. Pemikiran positif sangat membantu dalam peningkatan kesadaran kehidupan masyarakat dalam “living harmony with risk.”
“Dengan memahami dan mengantisipasi kejadian-kejadian bahaya di masa mendatang, masyarakat, pemerintah dan lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang pembangunan dapat mengurangi risiko bencana.” 
Di sisi lain, dalam konteks kapasitas dan kesiapsiagaan nasional, Direktur PRB BNPB Lilik Kurniawan yang menyampaikan Indonesia sudah memiliki Peta Risiko Bencana Gempabumi dan Tsunami. “Gambaran ancaman gempabumi dan tsunami serta potensi yang demikian dasyatnya dapat mengakibatkan korban jiwa, warga terdampak, kerugian ekonomi, serta kerusakan infrastruktur yang kritis di Indonesia,” tambah Lilik yang juga memberikan paparan pada seminar tersebut.
Menurut Lilik, tingkat kerawanan, dampak, dan risiko bencana diperbesar dapat dipicu oleh ketimpangan sosial-ekonomi yang semakin tajam sebagai akibat dari krisis multi dimensi. Kian besarnya perhatian pada upaya pengarusutamaan risiko juga dimotori oleh terus meningkatnya kerugian yang ditimbulkan oleh bencana, yang terutama diakibatkan oleh meningkatnya kerentanan aset ekonomi dan sosial serta kesejahteraan dan penghidupan masyarakat terhadap bahaya alam.
Seminar nasional dengan moderator budayawan Slamet Rahardjo ini menghadirkan pembicara kunci dari Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Humanitarian Openstreetmap Team (HOT), WeatherNews Inc., dan media massa Harian Kompas. 
Sutopo Purwo Nugroho
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB